Akhirnya majalah itu terbit juga, setelah mengalami berbagai kontroversi. Memerlukan sebuah keberanian luar biasa dari penerbitnya untuk berlenggang kangkung menerbitkan majalah ini. Majalah yang dari namanya saja sudah mengandung kesan porno, mesum, karena dari negeri asalnya majalah ini identik dengan isi yang mesum, nudis.
Jauh-jauh hari sebelum edisi pertama ini muncul, banyak kalangan yang memperdebatkannya. Banyak yang menolak penerbitan majalah ini, namun ditengah mayoritas muslim ternyata tidak sedikit yang malah jor-joran, mati-matian mendukung penerbitannya.
Mereka yang mendukung penerbitan majalah ini, semua berlindung atas nama seni, atas nama kebebasan press. Padahal seni yang mana sih…?? Orang bertelanjang bulat, yang memperlihatkan lekak lekuk tubuh, lalu dipublikasikan untuk dikonsumsi khalayak luas, itu dikatakan seni….?? Fuuuuuiiiihh….hanya orang-orang yang tidak berhati nurani lah yang mengatakan itu sebuah seni. Hati nurani yang sudah dilumpuri oleh ego, nafsu, berahi, dan semua yang berbau keduniawian. Paradoksnya ketika ada saudara-saudara kita di penghujung negeri, yang sehari-hari tidak berpakaian, malah dikatakan masih terbelakang.
Atas nama kebebasan..? kebebasan press..? Apa mereka lupa ditengah kebebasan itu, kita terbatasi oleh kebebasan itu sendiri..? kebebasan orang lain untuk menjaga pandangan suci matanya, kebebasan orang lain untuk memperbaiki hidup, kebebasan untuk menjaga diri dan keluarganya dari anasir yang bisa merusak akhlak dan akidah.
Sebenarnya itu semua paling-paling hanya kamuflase dari apalagi kalau bukan ke masalah perut. Karena kebanyakan yang mendukung adalah mereka yang baik secara langsung maupun tidak langsung menikmati keuntungan dari penerbitan majalah ini.
Tidak hanya itu, ada agenda besar yang tersembunyi dari orang-orang sekuler yang tidak ikhlas melihat Islam dan gairahnya mulai menggeliat di negeri ini. Mereka sadar sesadarnya fanatisme umat Islam itu tinggi, bahkan umat Islam siap meregang nyawa untuk membela agamanya. Dengan cara Ghozwul Fikri lah mereka pikir bisa melemahkan akidah umat Islam.
Media menjadi salah satu sarana yang mereka kuasai untuk memerangi pemikiran, membentuk opini. Ketika media sudah dikuasai, mereka bisa dengan leluasa membentuk opini, bahwa sesuatu itu benar yang pada hakekatnya sebenarnya salah ruarrrr biasa. Penggiringan opini secara bombastis, terus menerus inilah yang dikhawatirkan bisa merubah paradigma berpikir. Ketika sesuatu itu salah, tapi diopinikan benar secara menggelegar oleh media sekuler, lambat laun khalayak akan berpikir seperti apa yang dilontarkan oleh media.
Hmmmm kedepan…kalau majalah ini dan yang sejenis lainnya dibiarkan leluasa beredar disini. Kata “maksiat” sepertinya harus diredefinisikan oleh sebagian besar orang disini. Mudah-mudahan kita tidak menjadi salah satunya.
Ingat, kemaksiatan bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah…waspadalah.
No comments:
Post a Comment