Ketika Al-Musthafa berada dihadapan
Ku pandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala,
Tahukah kalian apa yang terjelma?
Cinta! (Abu Bakar ra)
Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam "Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri di belakang pintu "Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri". Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali mengucapkan salam yang pertama.
"Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang menjawabnya.
"Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?"
"Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya"
"Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.
"Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia memanggil " Sayang, mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar.
Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini berada di samping Muhammad.
"Assalamu’alaikum ya utusan Allah" dengan takzim malaikat memberi salam.
"Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus dingin.
"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali"
"Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai izrail?"
"Ia ku tinggal di atas langit dunia".
Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena Allah.
"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta Al-Musthafa.
Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu".
"Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.
"Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti".
"Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh. Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.
Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat bertutur, "Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.
"Apakah engkau membenciku Jibril"
"Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta," jawabnya sendu.
Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan "Ummatku… Ummatku….". Dan ia pun dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi'ul Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.
Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam: "demi siang bila datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan. Ia, Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi.
Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana.
Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa. Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi:
Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera,
Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam
Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia,
Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum
Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan
Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa’ir
Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh. Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia yang dicinta.
Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah sunyi.
Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih ‘Muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, "Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki langit.
Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa diungkapkan. Semesta menangis.
***
Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu:
Engkau adalah ke dua biji mata ini
Dengan kepergianmu yang anggun,
Aku seketika menjelma menjadi seorang buta
Yang tak perkasa lagi melihat cahaya
Siapapun yang ingin mati mengikutimu
Biarlah ia pergi menemui ajalnya,
Dan Aku,
Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu
Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka. Adakah sahabat???
Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu.
(Sumber : MyQuran)
Tuesday, April 25, 2006
Friday, April 21, 2006
Kritik tidak serenyah kripik...???
Ada beberapa millist yang saya ikuti selama ini, millist tentang iklan, marketing, komunitas pembaca sebuah majalah islam, komunitas sebuah partai, pantauan media, kalau dihitung-hitung ada lebih dari 10 mah millist dimana saya terdaftar menjadi anggotanya. Ini baru untuk account email saya di Dentsu.co.id, belum lagi email-email saya di Yahoo, dan Gmail.
Salah satu millist yang saya ikuti adalah millist Kritik Iklan, millist ini didirikan oleh Enda Nasution, seorang praktisi periklanan, yang sekarang berkarier di Thailand. Beliau oleh beberapa media dijuluki Bapak Perblogan Indonesia, karena kiprahnya di dunia blog ini baik didalam maupun luar negeri.
Pernah di millist ini saya mengkritik iklan obat nyamuk v***e, iklan ini memang relative baru dan sedang gencar di TV.
“Iya tuh iklannya menyesatkan..yang berbahaya juga kan nyamuk betina. Penyebab DBD juga kan nyamuk Aedes Aigepty betina. Terus masak diiklan tersebut, asapnya bisa membunuh nyamuk sih…? Kalau memang asap bisa membunuh nyamuk pasti akan banyak mayat nyamuk bergelimpangan dong? Kalau memang yang berbahaya adalah nyamuk betina, para guru dan kaum cendekia bisa nuntut lho, karena iklan ini bisa menyesatkan ilmu pengetahuan.”
Kurang lebih kalimat-kalimat seperti itu yang saya lontarkan ke millist. Rupa-rupanya ada seseorang yang tidak ikhlas dengan kritikan tersebut lantas mengirim email via japri yang kurang lebih seperti ini bunyinya.
“Man elo taunggak siapa yang buat tuh iklan? Gw sama team Ibu Jeanny yang buat, kalo elo pengen tahu silahkan turun ke lt 20.”
Ternyata eh ternyata iklan yang saya kritik adalah hasil karya teman sekantor..haha.. Begini-ni kalau kerja di agency gede, hasil kerjaan temen sendiri bisa ndak tahu.
Lantas saya kirim balik email untuk mohon maaf atas opini yang mungkin dianggapnya cukup pedas. Ntah emailnya yang emang nggak nyampe atau emang si dia “ngambek” karena sampai detik ini, email permohonan maaf tersebut tidak pernah ada balasannya.
Yaaa….setiap orang memang mempunyai karakter dan sikap sendiri, mungkin kritikan yang saya kemukakan dianggapnya terlalu pedas, menyinggung, dan tidak bisa menghargai jerih kerjanya. Tapi, yaa namanya juga opini, dan saya pikir millist itu didirikan juga untuk menampung neg-uneg segala macam tentang iklan…. Ya nggak sih?
Seharusnya dia bisa bersikap wise, gentle, berdada lebar untuk menerima segala macam kritikan itu, untuk kemudian dijadikannya sebagai pelecut untuk berkarya lebih bagus lagi. Kadang-kadang kita butuh masukan, teguran, kritikan dari orang lain, untuk menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan itu salahkah? Sesuai dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakatkah? Karena benar menurut kita kadang-kadang belum tentu menurut orang lain.
Dengan begitu tersadarlah bahwa kita ini makhluk yang tidak sempurna, banyak bolongnya disana-sini. Adapun segala ujian yang datang kepada kita itu semata-mata karena Yang Maha Sempurna menutup segala aib dan keburukan kita.
Salah satu millist yang saya ikuti adalah millist Kritik Iklan, millist ini didirikan oleh Enda Nasution, seorang praktisi periklanan, yang sekarang berkarier di Thailand. Beliau oleh beberapa media dijuluki Bapak Perblogan Indonesia, karena kiprahnya di dunia blog ini baik didalam maupun luar negeri.
Pernah di millist ini saya mengkritik iklan obat nyamuk v***e, iklan ini memang relative baru dan sedang gencar di TV.
“Iya tuh iklannya menyesatkan..yang berbahaya juga kan nyamuk betina. Penyebab DBD juga kan nyamuk Aedes Aigepty betina. Terus masak diiklan tersebut, asapnya bisa membunuh nyamuk sih…? Kalau memang asap bisa membunuh nyamuk pasti akan banyak mayat nyamuk bergelimpangan dong? Kalau memang yang berbahaya adalah nyamuk betina, para guru dan kaum cendekia bisa nuntut lho, karena iklan ini bisa menyesatkan ilmu pengetahuan.”
Kurang lebih kalimat-kalimat seperti itu yang saya lontarkan ke millist. Rupa-rupanya ada seseorang yang tidak ikhlas dengan kritikan tersebut lantas mengirim email via japri yang kurang lebih seperti ini bunyinya.
“Man elo taunggak siapa yang buat tuh iklan? Gw sama team Ibu Jeanny yang buat, kalo elo pengen tahu silahkan turun ke lt 20.”
Ternyata eh ternyata iklan yang saya kritik adalah hasil karya teman sekantor..haha.. Begini-ni kalau kerja di agency gede, hasil kerjaan temen sendiri bisa ndak tahu.
Lantas saya kirim balik email untuk mohon maaf atas opini yang mungkin dianggapnya cukup pedas. Ntah emailnya yang emang nggak nyampe atau emang si dia “ngambek” karena sampai detik ini, email permohonan maaf tersebut tidak pernah ada balasannya.
Yaaa….setiap orang memang mempunyai karakter dan sikap sendiri, mungkin kritikan yang saya kemukakan dianggapnya terlalu pedas, menyinggung, dan tidak bisa menghargai jerih kerjanya. Tapi, yaa namanya juga opini, dan saya pikir millist itu didirikan juga untuk menampung neg-uneg segala macam tentang iklan…. Ya nggak sih?
Seharusnya dia bisa bersikap wise, gentle, berdada lebar untuk menerima segala macam kritikan itu, untuk kemudian dijadikannya sebagai pelecut untuk berkarya lebih bagus lagi. Kadang-kadang kita butuh masukan, teguran, kritikan dari orang lain, untuk menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan itu salahkah? Sesuai dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakatkah? Karena benar menurut kita kadang-kadang belum tentu menurut orang lain.
Dengan begitu tersadarlah bahwa kita ini makhluk yang tidak sempurna, banyak bolongnya disana-sini. Adapun segala ujian yang datang kepada kita itu semata-mata karena Yang Maha Sempurna menutup segala aib dan keburukan kita.
Monday, April 17, 2006
Kita ini orang iklan…
Kurang lebih 4 tahun dunia ini sudah saya geluti, sebuah dunia yang dulu sempat menjadi satu dari sekian lahan yang saya harapkan menjadi pijakan dalam menjemput rizqiNYA. Yang menjadi menarik bagi saya, karena dunia ini sangat dinamis. Semakin hari, semakin berkembang baik ilmu maupun tehnologi yang digunakannya. Dinamika perkembangan pun terjadi diantara agency, ada yang tumbuh subur, bahkan tidak sedikit yang hidupnya mengap-mengap, dan akhirnya gulung tikar.
Iklan dan pernak-perniknya setidaknya menjadi bagian yang teramat penting dari proses pemasaran product atau jasa. Iklan bagian dari promosi, promosi sendiri adalah satu P dari 3 P lainnya yang menjadi bagian bauaran pemasaran, atau menurut orang marketing bilang Marketing Mix, yaitu Product, Price, Place dan Promosi. Kalau nggak salah malah teori terakhir pemasaran, 4P sudah bertambah menjadi 7P.
Setidaknya ada 2 hal yang menjadi kunci yang menjadi penunjang keberhasilan iklan sebuah product, Strategy kreatif dan strategi media, walaupun tidak menampikkan kunci lainnya, apalagi kalau cakupannya diperluas menjadi keberhasilan sebuah product diterima oleh khalayak atau tidak, disini akan banyak faktor.
Copywriter, Art director dan Creative Director adalah 3 dari sekian awak yang berada dibelakang proses kreatif . Mereka yang mencari ide, memoles ide tersebut dan dibumbui oleh kata-kata pemanis buatan sehingga menjadi sebuah karya audio/visual yang benar-benar menarik, stand out, eye cathcing, karya yang bisa benar-benar menyerang memori khalayak yang dituju dan bisa menempati memori tersebut dalam waktu lama. Selain harus menarik, ide kreatif ini juga haruslah bisa menjual, membawa pesan-pesan yang harus disampaikan tentang product yang diiklankan. Sehingga setidaknya khalayak menjadi tahu alasan apa yang membawa dia menjadi pembeli product tersebut.
Hasil ide kreative yang bagus dan menarik akan menjadi sia-sia kalau tidak ditunjang oleh strategi media yang bagus. Media juga dibutuhkan ide-ide kreative agar iklan tersebut memiliki peluang besar untuk dilihat oleh khalayak, sehingga belakangan muncul istilah kreative media. Bahkan media ini harus berpikir sedikitnya setahun kedepan, iklannya harus muncul dimana saja, kapan saja, biasanya disesuaikan dengan moment-moment yang memang pas untuk targetnya.
Ya..begitulah sekelumit tentang dunia iklan, saya sendiri ntah apa akan bertahan lama berkecimpung di dunia ini. Keinginan meninggalkan lahan ini seakan-akan terus saja menghantui, dunia wirausaha mungkin akan saya geluti nantinya, Hopefully.
Iklan dan dunianya sepertinya tidak akan lepas dari sisi-sisi kehidupan kita. Bahkan secara sadar ataupun tidak, sebenarnya kita sedang mengiklankan diri sendiri, membentuk opini dan persepsi diri kita dihadapan orang-orang lingkungan baik tempat tinggal maupun tempat kerja, jadi pintar-pintar anda bikin persepsi mau jadi orang baik atau mau sebaliknya, semuanya ada pilihannya.
Yang paling penting adalah sudahkah kita memoles diri, memperindah persepsi agar mereka para penghuni langit dan Sang Khalayak Agung itu mau sebentar saja memalingkan pandanganNYA ke kita. Setidaknya untuk berusaha mengiklankan diri kita dihadapanNYA, menunjukkan kelebihan-kelebihan amal kita, menunjukkan bahwa kita memang pantas untuk dipilih menjadi satu dari kesekian penghuni surgaNYA.
Iklan dan pernak-perniknya setidaknya menjadi bagian yang teramat penting dari proses pemasaran product atau jasa. Iklan bagian dari promosi, promosi sendiri adalah satu P dari 3 P lainnya yang menjadi bagian bauaran pemasaran, atau menurut orang marketing bilang Marketing Mix, yaitu Product, Price, Place dan Promosi. Kalau nggak salah malah teori terakhir pemasaran, 4P sudah bertambah menjadi 7P.
Setidaknya ada 2 hal yang menjadi kunci yang menjadi penunjang keberhasilan iklan sebuah product, Strategy kreatif dan strategi media, walaupun tidak menampikkan kunci lainnya, apalagi kalau cakupannya diperluas menjadi keberhasilan sebuah product diterima oleh khalayak atau tidak, disini akan banyak faktor.
Copywriter, Art director dan Creative Director adalah 3 dari sekian awak yang berada dibelakang proses kreatif . Mereka yang mencari ide, memoles ide tersebut dan dibumbui oleh kata-kata pemanis buatan sehingga menjadi sebuah karya audio/visual yang benar-benar menarik, stand out, eye cathcing, karya yang bisa benar-benar menyerang memori khalayak yang dituju dan bisa menempati memori tersebut dalam waktu lama. Selain harus menarik, ide kreatif ini juga haruslah bisa menjual, membawa pesan-pesan yang harus disampaikan tentang product yang diiklankan. Sehingga setidaknya khalayak menjadi tahu alasan apa yang membawa dia menjadi pembeli product tersebut.
Hasil ide kreative yang bagus dan menarik akan menjadi sia-sia kalau tidak ditunjang oleh strategi media yang bagus. Media juga dibutuhkan ide-ide kreative agar iklan tersebut memiliki peluang besar untuk dilihat oleh khalayak, sehingga belakangan muncul istilah kreative media. Bahkan media ini harus berpikir sedikitnya setahun kedepan, iklannya harus muncul dimana saja, kapan saja, biasanya disesuaikan dengan moment-moment yang memang pas untuk targetnya.
Ya..begitulah sekelumit tentang dunia iklan, saya sendiri ntah apa akan bertahan lama berkecimpung di dunia ini. Keinginan meninggalkan lahan ini seakan-akan terus saja menghantui, dunia wirausaha mungkin akan saya geluti nantinya, Hopefully.
Iklan dan dunianya sepertinya tidak akan lepas dari sisi-sisi kehidupan kita. Bahkan secara sadar ataupun tidak, sebenarnya kita sedang mengiklankan diri sendiri, membentuk opini dan persepsi diri kita dihadapan orang-orang lingkungan baik tempat tinggal maupun tempat kerja, jadi pintar-pintar anda bikin persepsi mau jadi orang baik atau mau sebaliknya, semuanya ada pilihannya.
Yang paling penting adalah sudahkah kita memoles diri, memperindah persepsi agar mereka para penghuni langit dan Sang Khalayak Agung itu mau sebentar saja memalingkan pandanganNYA ke kita. Setidaknya untuk berusaha mengiklankan diri kita dihadapanNYA, menunjukkan kelebihan-kelebihan amal kita, menunjukkan bahwa kita memang pantas untuk dipilih menjadi satu dari kesekian penghuni surgaNYA.
Wednesday, April 12, 2006
SAATNYA MEMBUKA LEMBARAN BARU
"SAATNYA MEMBUKA LEMBARAN BARU"
Setiap orang tentu mempunyai cara yang berbeda dalam
menyambut pergantian tahun. Namun, mungkin juga, ada
sebagian di antara Anda yang tengah diselimuti
penyesalan, karena target tahun lalu meleset.
Akibatnya, ayunan langkah menuju hari esok terasa
berat dan tersendat-sendat. Lalu, bagaimana
mengatasinya?
TARGET HIDUP IBARAT PETA PERJALANAN
Biasanya, setiap memasuki tahun yang baru, hampir
semua orang sibuk menyusun resolusi baru yang berisi
sederet cita-cita, target, dan harapan. Target itu pun
sangat beragam, tapi, apakah setiap orang memang perlu
memasang target?
Sebaiknya, setiap orang memiliki cita-cita dan target.
Sebab, kedua hal tersebut berguna untuk mengarahkan
perilaku Anda. Selain itu, target dapat membuat Anda
lebih fokus dan produktif dalam bekerja. Dengan
demikian, masalah yang mungkin timbul dapat
diantisipasi.
TAK SELAMANYA TERPENUHI
Perasaan sedih, kecewa, malu, dan rendah diri memang
sulit dihindari apabila target tak berhasil terpenuhi.
Apalagi jika orang lain telah mengetahui target-target
yang sudah ditetapkan. Itulah sebabnya, menerima
kegagalan bukanlah perkara mudah.
Namun lebih baik jika memiliki target yang tidak
tercapai, ketimbang tidak mempunyai tujuan hidup sama
sekali. Karena, setiap kali melewati sebuah
permasalahan, seseorang juga akan melalui proses
pembelajaran dan pendewasaan diri. “Jika mau dan
mampu belajar dari kegagalan yang dialami, dijamin
seseorang akan menjadi pribadi yang lebih tangguh dan
lebih bijaksana.
‘BERDAMAI’ DENGAN KEGAGALAN
Agenda sehari-hari yang kelewat padat mungkin kerap
membuat mobilitas Anda tinggi, seakan tak pernah
berhenti beraktivitas. Karena itu, bukan tak mungkin
Anda lupa merenung dan melakukan evaluasi. Padahal,
evaluasi sangat penting dilakukan untuk mengoreksi
setiap tindakan, apakah sudah dilakukan dengan benar
atau belum.
Setiap orang juga memiliki cara yang berbeda untuk
‘berdamai’ dengan kegagalan. Langkah yang tak
kalah penting setelah mengalami kegagalan adalah
merelakan segala peristiwa yang telah terjadi. Yang
dapat Anda lakukan selanjutnya adalah berjuang, untuk
hari ini dan untuk masa depan.
JANGAN TAKUT MELANGKAH LAGI
If you know the enemy and know yourself, your victory
will not stand in doubt, if you know heaven and know
earth, you may make your victory complete. (Jika Anda
memahami musuh dan diri sendiri, kemenangan Anda tak
akan disangsikan. Jika Anda memahami surga sekaligus
memahami dunia, kemenangan yang diperoleh akan terasa
makin lengkap.) - Sun Tzu, ahli strategi perang dari
Cina.
Pada awalnya, bangkit kembali setelah mengalami
kegagalan mungkin tak terasa mudah. Hal pertama yang
perlu dilakukan adalah mencoba memahami diri sendiri.
Pemahaman terhadap diri sendiri penting dilakukan agar
Anda dapat menentukan target yang ingin diperoleh
secara proporsional. Maksudnya, target yang disusun
sebaiknya tidak berada di luar jangkauan kemampuan.
Satu hal yang perlu Anda ingat adalah tidak
memosisikan target sebagai segala-galanya dalam hidup
ini. Menentukan target, sih, boleh-boleh saja, tapi
Anda perlu menempatkannya sebagai patokan dalam
bertindak dan menjalani kehidupan sehari-hari. Tak
perlu takut menghadapi kegagalan. Toh, Anda justru
bisa memetik pelajaran berharga dari kegagalan itu.
Jadi, apakah Anda sudah siap melupakan masa lalu dan
membuka lembaran kehidupan yang baru?
(taken from : femina-online)
Setiap orang tentu mempunyai cara yang berbeda dalam
menyambut pergantian tahun. Namun, mungkin juga, ada
sebagian di antara Anda yang tengah diselimuti
penyesalan, karena target tahun lalu meleset.
Akibatnya, ayunan langkah menuju hari esok terasa
berat dan tersendat-sendat. Lalu, bagaimana
mengatasinya?
TARGET HIDUP IBARAT PETA PERJALANAN
Biasanya, setiap memasuki tahun yang baru, hampir
semua orang sibuk menyusun resolusi baru yang berisi
sederet cita-cita, target, dan harapan. Target itu pun
sangat beragam, tapi, apakah setiap orang memang perlu
memasang target?
Sebaiknya, setiap orang memiliki cita-cita dan target.
Sebab, kedua hal tersebut berguna untuk mengarahkan
perilaku Anda. Selain itu, target dapat membuat Anda
lebih fokus dan produktif dalam bekerja. Dengan
demikian, masalah yang mungkin timbul dapat
diantisipasi.
TAK SELAMANYA TERPENUHI
Perasaan sedih, kecewa, malu, dan rendah diri memang
sulit dihindari apabila target tak berhasil terpenuhi.
Apalagi jika orang lain telah mengetahui target-target
yang sudah ditetapkan. Itulah sebabnya, menerima
kegagalan bukanlah perkara mudah.
Namun lebih baik jika memiliki target yang tidak
tercapai, ketimbang tidak mempunyai tujuan hidup sama
sekali. Karena, setiap kali melewati sebuah
permasalahan, seseorang juga akan melalui proses
pembelajaran dan pendewasaan diri. “Jika mau dan
mampu belajar dari kegagalan yang dialami, dijamin
seseorang akan menjadi pribadi yang lebih tangguh dan
lebih bijaksana.
‘BERDAMAI’ DENGAN KEGAGALAN
Agenda sehari-hari yang kelewat padat mungkin kerap
membuat mobilitas Anda tinggi, seakan tak pernah
berhenti beraktivitas. Karena itu, bukan tak mungkin
Anda lupa merenung dan melakukan evaluasi. Padahal,
evaluasi sangat penting dilakukan untuk mengoreksi
setiap tindakan, apakah sudah dilakukan dengan benar
atau belum.
Setiap orang juga memiliki cara yang berbeda untuk
‘berdamai’ dengan kegagalan. Langkah yang tak
kalah penting setelah mengalami kegagalan adalah
merelakan segala peristiwa yang telah terjadi. Yang
dapat Anda lakukan selanjutnya adalah berjuang, untuk
hari ini dan untuk masa depan.
JANGAN TAKUT MELANGKAH LAGI
If you know the enemy and know yourself, your victory
will not stand in doubt, if you know heaven and know
earth, you may make your victory complete. (Jika Anda
memahami musuh dan diri sendiri, kemenangan Anda tak
akan disangsikan. Jika Anda memahami surga sekaligus
memahami dunia, kemenangan yang diperoleh akan terasa
makin lengkap.) - Sun Tzu, ahli strategi perang dari
Cina.
Pada awalnya, bangkit kembali setelah mengalami
kegagalan mungkin tak terasa mudah. Hal pertama yang
perlu dilakukan adalah mencoba memahami diri sendiri.
Pemahaman terhadap diri sendiri penting dilakukan agar
Anda dapat menentukan target yang ingin diperoleh
secara proporsional. Maksudnya, target yang disusun
sebaiknya tidak berada di luar jangkauan kemampuan.
Satu hal yang perlu Anda ingat adalah tidak
memosisikan target sebagai segala-galanya dalam hidup
ini. Menentukan target, sih, boleh-boleh saja, tapi
Anda perlu menempatkannya sebagai patokan dalam
bertindak dan menjalani kehidupan sehari-hari. Tak
perlu takut menghadapi kegagalan. Toh, Anda justru
bisa memetik pelajaran berharga dari kegagalan itu.
Jadi, apakah Anda sudah siap melupakan masa lalu dan
membuka lembaran kehidupan yang baru?
(taken from : femina-online)
Si Kelinci yang pantas dikebiri...
Akhirnya majalah itu terbit juga, setelah mengalami berbagai kontroversi. Memerlukan sebuah keberanian luar biasa dari penerbitnya untuk berlenggang kangkung menerbitkan majalah ini. Majalah yang dari namanya saja sudah mengandung kesan porno, mesum, karena dari negeri asalnya majalah ini identik dengan isi yang mesum, nudis.
Jauh-jauh hari sebelum edisi pertama ini muncul, banyak kalangan yang memperdebatkannya. Banyak yang menolak penerbitan majalah ini, namun ditengah mayoritas muslim ternyata tidak sedikit yang malah jor-joran, mati-matian mendukung penerbitannya.
Mereka yang mendukung penerbitan majalah ini, semua berlindung atas nama seni, atas nama kebebasan press. Padahal seni yang mana sih…?? Orang bertelanjang bulat, yang memperlihatkan lekak lekuk tubuh, lalu dipublikasikan untuk dikonsumsi khalayak luas, itu dikatakan seni….?? Fuuuuuiiiihh….hanya orang-orang yang tidak berhati nurani lah yang mengatakan itu sebuah seni. Hati nurani yang sudah dilumpuri oleh ego, nafsu, berahi, dan semua yang berbau keduniawian. Paradoksnya ketika ada saudara-saudara kita di penghujung negeri, yang sehari-hari tidak berpakaian, malah dikatakan masih terbelakang.
Atas nama kebebasan..? kebebasan press..? Apa mereka lupa ditengah kebebasan itu, kita terbatasi oleh kebebasan itu sendiri..? kebebasan orang lain untuk menjaga pandangan suci matanya, kebebasan orang lain untuk memperbaiki hidup, kebebasan untuk menjaga diri dan keluarganya dari anasir yang bisa merusak akhlak dan akidah.
Sebenarnya itu semua paling-paling hanya kamuflase dari apalagi kalau bukan ke masalah perut. Karena kebanyakan yang mendukung adalah mereka yang baik secara langsung maupun tidak langsung menikmati keuntungan dari penerbitan majalah ini.
Tidak hanya itu, ada agenda besar yang tersembunyi dari orang-orang sekuler yang tidak ikhlas melihat Islam dan gairahnya mulai menggeliat di negeri ini. Mereka sadar sesadarnya fanatisme umat Islam itu tinggi, bahkan umat Islam siap meregang nyawa untuk membela agamanya. Dengan cara Ghozwul Fikri lah mereka pikir bisa melemahkan akidah umat Islam.
Media menjadi salah satu sarana yang mereka kuasai untuk memerangi pemikiran, membentuk opini. Ketika media sudah dikuasai, mereka bisa dengan leluasa membentuk opini, bahwa sesuatu itu benar yang pada hakekatnya sebenarnya salah ruarrrr biasa. Penggiringan opini secara bombastis, terus menerus inilah yang dikhawatirkan bisa merubah paradigma berpikir. Ketika sesuatu itu salah, tapi diopinikan benar secara menggelegar oleh media sekuler, lambat laun khalayak akan berpikir seperti apa yang dilontarkan oleh media.
Hmmmm kedepan…kalau majalah ini dan yang sejenis lainnya dibiarkan leluasa beredar disini. Kata “maksiat” sepertinya harus diredefinisikan oleh sebagian besar orang disini. Mudah-mudahan kita tidak menjadi salah satunya.
Ingat, kemaksiatan bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah…waspadalah.
Jauh-jauh hari sebelum edisi pertama ini muncul, banyak kalangan yang memperdebatkannya. Banyak yang menolak penerbitan majalah ini, namun ditengah mayoritas muslim ternyata tidak sedikit yang malah jor-joran, mati-matian mendukung penerbitannya.
Mereka yang mendukung penerbitan majalah ini, semua berlindung atas nama seni, atas nama kebebasan press. Padahal seni yang mana sih…?? Orang bertelanjang bulat, yang memperlihatkan lekak lekuk tubuh, lalu dipublikasikan untuk dikonsumsi khalayak luas, itu dikatakan seni….?? Fuuuuuiiiihh….hanya orang-orang yang tidak berhati nurani lah yang mengatakan itu sebuah seni. Hati nurani yang sudah dilumpuri oleh ego, nafsu, berahi, dan semua yang berbau keduniawian. Paradoksnya ketika ada saudara-saudara kita di penghujung negeri, yang sehari-hari tidak berpakaian, malah dikatakan masih terbelakang.
Atas nama kebebasan..? kebebasan press..? Apa mereka lupa ditengah kebebasan itu, kita terbatasi oleh kebebasan itu sendiri..? kebebasan orang lain untuk menjaga pandangan suci matanya, kebebasan orang lain untuk memperbaiki hidup, kebebasan untuk menjaga diri dan keluarganya dari anasir yang bisa merusak akhlak dan akidah.
Sebenarnya itu semua paling-paling hanya kamuflase dari apalagi kalau bukan ke masalah perut. Karena kebanyakan yang mendukung adalah mereka yang baik secara langsung maupun tidak langsung menikmati keuntungan dari penerbitan majalah ini.
Tidak hanya itu, ada agenda besar yang tersembunyi dari orang-orang sekuler yang tidak ikhlas melihat Islam dan gairahnya mulai menggeliat di negeri ini. Mereka sadar sesadarnya fanatisme umat Islam itu tinggi, bahkan umat Islam siap meregang nyawa untuk membela agamanya. Dengan cara Ghozwul Fikri lah mereka pikir bisa melemahkan akidah umat Islam.
Media menjadi salah satu sarana yang mereka kuasai untuk memerangi pemikiran, membentuk opini. Ketika media sudah dikuasai, mereka bisa dengan leluasa membentuk opini, bahwa sesuatu itu benar yang pada hakekatnya sebenarnya salah ruarrrr biasa. Penggiringan opini secara bombastis, terus menerus inilah yang dikhawatirkan bisa merubah paradigma berpikir. Ketika sesuatu itu salah, tapi diopinikan benar secara menggelegar oleh media sekuler, lambat laun khalayak akan berpikir seperti apa yang dilontarkan oleh media.
Hmmmm kedepan…kalau majalah ini dan yang sejenis lainnya dibiarkan leluasa beredar disini. Kata “maksiat” sepertinya harus diredefinisikan oleh sebagian besar orang disini. Mudah-mudahan kita tidak menjadi salah satunya.
Ingat, kemaksiatan bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah…waspadalah.
Sunday, April 09, 2006
Disini di dalam sini...
Disini didalam sini
Adakah setitik nurani
Nurani yang tahu tentang hakiki
Disini didalam sini
hanyakah persepsi dan imaji
yang meningkahi hati
mengalahi nurani
melumpuri hakiki
Duuh Gusti Cinta Sejati..
Jangan jauh-jauh lagi..
Bersemayamlah di langit hati..
Penuhi dan sinari dengan cinta hakiki...
Biarlah kupenuhi relung jiwaku
Dengan lirik indah asmaMu...
Adakah setitik nurani
Nurani yang tahu tentang hakiki
Disini didalam sini
hanyakah persepsi dan imaji
yang meningkahi hati
mengalahi nurani
melumpuri hakiki
Duuh Gusti Cinta Sejati..
Jangan jauh-jauh lagi..
Bersemayamlah di langit hati..
Penuhi dan sinari dengan cinta hakiki...
Biarlah kupenuhi relung jiwaku
Dengan lirik indah asmaMu...
Wednesday, April 05, 2006
kesejatian kehidupan...
Sahabat...
Kehidupan dunia dengan segala konsekuensinya hanyalah sesuatu yang semu dan belum final. Kesejatian dalam kehidupan hanya dapat dirasakan di akhirat nanti. Di akhiratlah setiap orang akan mendapat balasan yang seadil-adilnya atas segala perbuatannya di dunia dan akan terbukti dengan jelas siapa orang-orang yang mempunyai posisi mulia atau hina-dina di hadapan Allah, Al-Aziizul Hakim. Kesadaran ini akan membuat kita dapat menyikapi realitas kehidupan dunia secara wajar dan proporsional. Tak lupa daratan jika harapan menjadi nyata, juga tidak terlalu berduka atau putus asa bila keinginan tak terwujud. Kita pun dapat tetap tersenyum tulus dalam menjalani hari-hari yang kadang sepahit empedu di bumi Allah yang fana ini. Sebagaimana sabda Rasulullah: "Barang siapa yang selalu memikirkan akhiratnya, maka Allah akan menjadikan hatinya kaya." (HR. Turmudzi)
Sahabat...
Perjalanan hidup di dunia hanyalah sebentar. Tidak akan lama … Semoga kita bisa bertahan, bertahan … dan bertahan dalam keimanan hingga selamat di penghujung usia dengan husnul khatimah. Semoga Allah senantiasa mengampuni dan merahmati kita fied dunya wal akhirat. Aamien. Allahumma Aamien.
"Ya Allah… Karuniakan kepada kami keberanian serta kemampuan
untuk mengubah apa yang bisa diubah, ketabahan dalam menerima
apa yang tidak bisa diubah dan kebijakan untuk membedakan
keduanya."
"Ya Allah… Karuniakan kepada kami ketenangan jiwa, yaqin akan saat
perjumpaan dengan-Mu dan ridla dengan segala ketentuan-Mu."
(Do’a Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wassalaam)
Kehidupan dunia dengan segala konsekuensinya hanyalah sesuatu yang semu dan belum final. Kesejatian dalam kehidupan hanya dapat dirasakan di akhirat nanti. Di akhiratlah setiap orang akan mendapat balasan yang seadil-adilnya atas segala perbuatannya di dunia dan akan terbukti dengan jelas siapa orang-orang yang mempunyai posisi mulia atau hina-dina di hadapan Allah, Al-Aziizul Hakim. Kesadaran ini akan membuat kita dapat menyikapi realitas kehidupan dunia secara wajar dan proporsional. Tak lupa daratan jika harapan menjadi nyata, juga tidak terlalu berduka atau putus asa bila keinginan tak terwujud. Kita pun dapat tetap tersenyum tulus dalam menjalani hari-hari yang kadang sepahit empedu di bumi Allah yang fana ini. Sebagaimana sabda Rasulullah: "Barang siapa yang selalu memikirkan akhiratnya, maka Allah akan menjadikan hatinya kaya." (HR. Turmudzi)
Sahabat...
Perjalanan hidup di dunia hanyalah sebentar. Tidak akan lama … Semoga kita bisa bertahan, bertahan … dan bertahan dalam keimanan hingga selamat di penghujung usia dengan husnul khatimah. Semoga Allah senantiasa mengampuni dan merahmati kita fied dunya wal akhirat. Aamien. Allahumma Aamien.
"Ya Allah… Karuniakan kepada kami keberanian serta kemampuan
untuk mengubah apa yang bisa diubah, ketabahan dalam menerima
apa yang tidak bisa diubah dan kebijakan untuk membedakan
keduanya."
"Ya Allah… Karuniakan kepada kami ketenangan jiwa, yaqin akan saat
perjumpaan dengan-Mu dan ridla dengan segala ketentuan-Mu."
(Do’a Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wassalaam)
Sunday, April 02, 2006
ruang dihatimu...
ruang di hatimu
Sahabat ...
kalaupun aku ada dihatimu, maka itulah kebahagiaanku
Banyak sekali ruang di hatimu,
untuk Allah, Ibu, Ayah, saudara
dan untuk orang yang kaucintai.
Sahabat ...
kalaupun aku ada dihatimu, maka itulah sebab keceriaanku
Ruangan dihatimu pun beragam macam
ruang tertinggi untuk Allah, ruang termulia untuk ibu
ruang terhormat untuk Ayah
dan ruang terindah untuk saudara.
Sahabat ...
kalaupun aku ada dihatimu, itulah penghibur birunya hatiku
Letakkan diriku di ruang yang sederhana, paling sederhana
agar jarang kau ingat diriku tapi tak pernah kau lupa ...
Sahabat ...
kalaupun aku ada dihatimu, maka itulah kebahagiaanku
Banyak sekali ruang di hatimu,
untuk Allah, Ibu, Ayah, saudara
dan untuk orang yang kaucintai.
Sahabat ...
kalaupun aku ada dihatimu, maka itulah sebab keceriaanku
Ruangan dihatimu pun beragam macam
ruang tertinggi untuk Allah, ruang termulia untuk ibu
ruang terhormat untuk Ayah
dan ruang terindah untuk saudara.
Sahabat ...
kalaupun aku ada dihatimu, itulah penghibur birunya hatiku
Letakkan diriku di ruang yang sederhana, paling sederhana
agar jarang kau ingat diriku tapi tak pernah kau lupa ...
Subscribe to:
Posts (Atom)