Padahal beberapa hari belakangan ini kerjaan lagi kosong, paling hanya monitoring dan menyiapkan beberapa request dari client, tapi pulang dan pergi kulalui seperti biasanya. Berangkat jam 6 dari kost-an, kalau perut lagi nagih banget, biasanya sebentar mampir di kedai kopi pinggir jalan dekat kampus STEI Rawamangun.
Pagi tadi berangkat jam 6 kurang dikit (palingan 10 menitan), niatnya memang pengen mampir di kedai itu. Sebentar memanaskan motor, yang penting olinya naek, ngomong-ngomong oli biar cepat naek, ada tips dari seorang teman, katanya sebelum menghidupkan mesin, lampu indikator mesin dalam keadaan hijau, “selah” (kickstarter) dikocok-kocok turun naek beberapa kali (teman menganjurkannya 5 kali), baru setelah itu mesin dihidupkan.
Back to line, tepat jam 6 lewat 5 menit, aku bergerak perlahan meninggalkan “asrama”, sepanjang perjalanan yang kupikirkan adalah menu sarapan pagi ini, minumnya sih sudah jelas STMJ maaan. Minuman ini rasanya hangat dan berenergi, Susu, Telor, Madu, dan Jahe gitu lohhh. STMJ di kedai ini diracik sendiri, tidak dalam bentuk instant yang tersedia banyak di warung-warung eceren buatan Sido Muncul (nggak penting banget gitu J).
Awalnya sih ketika pertama kali mampir di kedai dan order STMJ, yang ada dalam benak ya itu STMJ instant yang siap tinggal seduh itu, tapi ternyata beda euy, Jahe nya diparut sendiri, kemudian direbus sampai mendidih, telor ayam kampung diambil kuningnya saja lalu diaduk campur dengan susu cair kental Cap Carnation (hampir semua kedai seperti ini kayaknya pakai merk ini, tanya kenapa??), setelah air jahe mendidih lalu dituangkan kedalam gelas campuran telor dan susu tadi. STMJ aseli siap dihidangkan. “Sruuuput….hmmm..” kebayang nggak pagi-pagi menyeruput segelas STMJ
M: “Bubur kacang..? ..”kayaknya agak enek kalo minum STMJ terus sarapannya bubur kacang…” (kan bubur kacang juga ada jahe nya ya)
M: “Indomie…? (sorry nyebutin merk lagi)…”tadi malam makan malamnya pake mie, katanya nggak baik kalo kebanyakan makan mie..(termakan informasi lewat millist nih)”
M: “Bubur ayam..?” uhhh….kalau saja di kedai itu ada bubur ayam....” karena sepanjang yang aku tahu nggak jual bubur ayam, baik yang dikiri maupun kanan kedai lainnya.
M: “Roti bakar / pisang keju..?” ya mungkin salah satu dari menu ini…pokoknya keputusannya nanti pas gek duduk di kedai…
Jam 6 lewat 15 menitan, kedai sudah ada didepan mataku. Aku berhenti tepat didepannya. Pandangan mata beberapa saat tertuju pada sebuah sunblind yang masih baru kayaknya, tau kan sunblind..?” penutup kedai yang terbuat dari kain, yang bertuliskan nama kedai dan menu-menu yang dijual ituloh.
Sunblind tersebut terpasang di kedai sebelah kanan dari kedai yang biasa aku mampir. Di sunblind tersebut tertulis beberapa menu yang dijual dan bubur ayam salah menu yang dijual di kedai itu.
M: “Wah…ada bubur ayam…kebetulan pas “ngidam” pengen makan bubur ayam eeh…pas “ada yang jual.
Ya sudah deh, akhirnya motor kugerakkan sedikit menuju kedai tersebut. Sebentar kemudian aku sudah menjumpai diriku duduk di kedai itu.
M: “Mas ada bubur ayam yah…” tanyaku pada salah seorang di kedai tersebut, karena ada 3 orang yang menjaga kedai.
PK1 : “ ada….” Sahut salah seorang kedai .
PK2 : “nggak ada…” Sahut salah seorang lainnya
Nah lho…kok berselih paham begini…mataku bolak-balik memandang kedua penjaga kedai tsb..
PK1 : “ ada..ada….ada kok” Sahut nya lagi dengan keyakinan mantap.
PK2 : “nggak ada…eta kan can asak, teu acan jadi bubur” timpal si kedai satunya dengan yakin pula, dengan bahasa campuran seperti kebanyakan pemilik kedai yang ada dipinggir jalan lainnya, mereka adalah orang-orang sunda.
PK1 : “ atos kok, tos asak, tos jadi bubur” Keyakinannya bertambah mantap nih.
Si penjaga kedai 2 sepertinya males untuk melanjutkan omongannya, dengan membiarkan si penjaga kedai 1 segera menyiapkan bubur ayam pesananku plus STMJ.
Singkat cerita, bubur sudah siap dihidangkan, dan….uuuhh jadi nggak nafsu sarapan deh lihat tampilan tuh bubur. Benar lah apa kata si penjaga kedai 2, emang bubur ini masih belum layak untuk dikatakan bubur, bentuknya masih kasar-kasar, berbentuk nasi yang bengkak. Dan iiiihh…rasanya bubur ini mak, Cuma rasa kaldu ayam aja yang menguahi bubur. Tapi mau nggak mau, daripada perut lapar dan rugi bandar, terpaksa kulahap juga walaupun yang kulahap hanya potongan-potongan ayamnya saja.
M: “ Mas…mas…lain kali kalo emang belum matang, mbok ya jangan dipaksain… Begini nih jadinya, kamu baru saja kehilangan 1 pelanggan.” Gerutuku dalam hati Karena aku sudah memutuskan besok-besok nggak kesini lagi, balik lagi ke kedai sebelah yang biasa kusinggahi.”
…….
Satu hal yang perlu dicatet, sekecil apapun product yang anda jual, anda harus memperhatikan benar dan detail dengan product tersebut. Kalo apa yang kualami diatas promonya mungkin sudah benar, dengan cukup memasang sunblind yang eye catching, hurufnya gede-gede memudahkan orang tahu apa yang ada di kedai tersebut, lalu setelah orang tahu tentang jualan anda dan kemudian ingin trial dengan apa yang anda jual, tapi ternyata product tersebut tidak sesuai dengan yang orang harapkan, artinya standar kualitas jauh panggang dari api, yaaa…anda siap-siap aja kehilangan calon customer, karena setelah trial pertama tapi productnya bermasalah, peluang kemungkinan orang untuk repurchase bisa jadi nol besar.
Mmmm…mayan lah dapat pelajaran pagi ini….
Pagi tadi berangkat jam 6 kurang dikit (palingan 10 menitan), niatnya memang pengen mampir di kedai itu. Sebentar memanaskan motor, yang penting olinya naek, ngomong-ngomong oli biar cepat naek, ada tips dari seorang teman, katanya sebelum menghidupkan mesin, lampu indikator mesin dalam keadaan hijau, “selah” (kickstarter) dikocok-kocok turun naek beberapa kali (teman menganjurkannya 5 kali), baru setelah itu mesin dihidupkan.
Back to line, tepat jam 6 lewat 5 menit, aku bergerak perlahan meninggalkan “asrama”, sepanjang perjalanan yang kupikirkan adalah menu sarapan pagi ini, minumnya sih sudah jelas STMJ maaan. Minuman ini rasanya hangat dan berenergi, Susu, Telor, Madu, dan Jahe gitu lohhh. STMJ di kedai ini diracik sendiri, tidak dalam bentuk instant yang tersedia banyak di warung-warung eceren buatan Sido Muncul (nggak penting banget gitu J).
Awalnya sih ketika pertama kali mampir di kedai dan order STMJ, yang ada dalam benak ya itu STMJ instant yang siap tinggal seduh itu, tapi ternyata beda euy, Jahe nya diparut sendiri, kemudian direbus sampai mendidih, telor ayam kampung diambil kuningnya saja lalu diaduk campur dengan susu cair kental Cap Carnation (hampir semua kedai seperti ini kayaknya pakai merk ini, tanya kenapa??), setelah air jahe mendidih lalu dituangkan kedalam gelas campuran telor dan susu tadi. STMJ aseli siap dihidangkan. “Sruuuput….hmmm..” kebayang nggak pagi-pagi menyeruput segelas STMJ
M: “Bubur kacang..? ..”kayaknya agak enek kalo minum STMJ terus sarapannya bubur kacang…” (kan bubur kacang juga ada jahe nya ya)
M: “Indomie…? (sorry nyebutin merk lagi)…”tadi malam makan malamnya pake mie, katanya nggak baik kalo kebanyakan makan mie..(termakan informasi lewat millist nih)”
M: “Bubur ayam..?” uhhh….kalau saja di kedai itu ada bubur ayam....” karena sepanjang yang aku tahu nggak jual bubur ayam, baik yang dikiri maupun kanan kedai lainnya.
M: “Roti bakar / pisang keju..?” ya mungkin salah satu dari menu ini…pokoknya keputusannya nanti pas gek duduk di kedai…
Jam 6 lewat 15 menitan, kedai sudah ada didepan mataku. Aku berhenti tepat didepannya. Pandangan mata beberapa saat tertuju pada sebuah sunblind yang masih baru kayaknya, tau kan sunblind..?” penutup kedai yang terbuat dari kain, yang bertuliskan nama kedai dan menu-menu yang dijual ituloh.
Sunblind tersebut terpasang di kedai sebelah kanan dari kedai yang biasa aku mampir. Di sunblind tersebut tertulis beberapa menu yang dijual dan bubur ayam salah menu yang dijual di kedai itu.
M: “Wah…ada bubur ayam…kebetulan pas “ngidam” pengen makan bubur ayam eeh…pas “ada yang jual.
Ya sudah deh, akhirnya motor kugerakkan sedikit menuju kedai tersebut. Sebentar kemudian aku sudah menjumpai diriku duduk di kedai itu.
M: “Mas ada bubur ayam yah…” tanyaku pada salah seorang di kedai tersebut, karena ada 3 orang yang menjaga kedai.
PK1 : “ ada….” Sahut salah seorang kedai .
PK2 : “nggak ada…” Sahut salah seorang lainnya
Nah lho…kok berselih paham begini…mataku bolak-balik memandang kedua penjaga kedai tsb..
PK1 : “ ada..ada….ada kok” Sahut nya lagi dengan keyakinan mantap.
PK2 : “nggak ada…eta kan can asak, teu acan jadi bubur” timpal si kedai satunya dengan yakin pula, dengan bahasa campuran seperti kebanyakan pemilik kedai yang ada dipinggir jalan lainnya, mereka adalah orang-orang sunda.
PK1 : “ atos kok, tos asak, tos jadi bubur” Keyakinannya bertambah mantap nih.
Si penjaga kedai 2 sepertinya males untuk melanjutkan omongannya, dengan membiarkan si penjaga kedai 1 segera menyiapkan bubur ayam pesananku plus STMJ.
Singkat cerita, bubur sudah siap dihidangkan, dan….uuuhh jadi nggak nafsu sarapan deh lihat tampilan tuh bubur. Benar lah apa kata si penjaga kedai 2, emang bubur ini masih belum layak untuk dikatakan bubur, bentuknya masih kasar-kasar, berbentuk nasi yang bengkak. Dan iiiihh…rasanya bubur ini mak, Cuma rasa kaldu ayam aja yang menguahi bubur. Tapi mau nggak mau, daripada perut lapar dan rugi bandar, terpaksa kulahap juga walaupun yang kulahap hanya potongan-potongan ayamnya saja.
M: “ Mas…mas…lain kali kalo emang belum matang, mbok ya jangan dipaksain… Begini nih jadinya, kamu baru saja kehilangan 1 pelanggan.” Gerutuku dalam hati Karena aku sudah memutuskan besok-besok nggak kesini lagi, balik lagi ke kedai sebelah yang biasa kusinggahi.”
…….
Satu hal yang perlu dicatet, sekecil apapun product yang anda jual, anda harus memperhatikan benar dan detail dengan product tersebut. Kalo apa yang kualami diatas promonya mungkin sudah benar, dengan cukup memasang sunblind yang eye catching, hurufnya gede-gede memudahkan orang tahu apa yang ada di kedai tersebut, lalu setelah orang tahu tentang jualan anda dan kemudian ingin trial dengan apa yang anda jual, tapi ternyata product tersebut tidak sesuai dengan yang orang harapkan, artinya standar kualitas jauh panggang dari api, yaaa…anda siap-siap aja kehilangan calon customer, karena setelah trial pertama tapi productnya bermasalah, peluang kemungkinan orang untuk repurchase bisa jadi nol besar.
Mmmm…mayan lah dapat pelajaran pagi ini….
1 comment:
sebelum antum hidupin motor, tapi posisi kunci motor sudah masuk ke lubangnya (jangan dulu di putar ke posisi On), kick starter antum kocok2 naek turun beberapa kali (persis kalo hidupin mesin pake kickstarter, bukan pake otomatic)..begitu. Ana jumpai diparkiran orang2 melakukannya demikian..
Post a Comment