Adalah Taman Latuharhary (gimana nulisnya ya?) yang selalu aku lintasi ketika aku pulang kerja. Bagi sebagian orang mungkin tidak begitu kenal dengan taman ini, orang lebih kenal dengan taman lawang.. ya Taman Lawang. Aku belum tahu bagaimana ceritanya taman latuharhary lebih tenar disebut taman lawang. Kalo Latuharhary mungkin nama seorang pahlawan kali ya…?
Ketika orang mendengar nama taman lawang, pasti didalam pikirannya yang terlintas adalah pangkalan para waria yang menjual jasa pemuas kebutuhan sexual bagi sebagian orang yang aku pikir pasti memiliki kelainan jiwa. Bagaimana tidak, Tuhan sudah menciptakan makhluknya yang terindah yang disebut wanita, sebagai teman untuk mencurahkan segala asa dan rasa, tapi orang-orang sakit jiwa ini malah melarikan kebutuhannya ke para waria.
Tunggu dulu….jangan divonis sakit jiwa seperti itu dulu. Mungkin saja, orang-orang hidung belang itu sekedar ingin tahu, sekedar ingin merasakan, dan sekedar-sekedar lainnya, tapi pada dasarnya mereka adalah orang-orang normal, yang masih memerlukan wanita.
Bagiku ketika orang sudah menggunakan logika terbalik, artinya ketika sebagian besar orang bertindak A, tapi mereka malah bertindak B, ketika orang sudah tidak lagi mendengarkan bisikan hati nuraninya, orang-orang itu sudah dikategorikan jiwanya sedang sakit, kondisi psikisnya terganggu, cahaya didalam hati nuraninya sedang redup.
Oh ya…ngomong-ngomong di area taman lawang dan sekitarnya, sepertinya sudah menjadi area lokalisasi. Di area ini tersedia bajakan atau orgi hahaha, yang bajakan adalah mereka para waria, dan orgi, anda tahu sendiri. Aku kadang-kadang secara terlintas melihat bagaimana sekumpulan gadis muda belia yang kira-kira usianya 15-20 tahun, berdiri di beberapa tempat remang-remang sepanjang jalur kereta api Manggarai –Sudirman. Miris sekali melihat pemandangan seperti itu. gadis-gadis muda, usia sekolah, sudah menjadi pemuas hidung lelaki yang belang.
Pemandangan seperti itu aku jumpai hampir setiap malam, nggak tahu bagaimana kalo lewat jalan itu malam minggu mungkin lebih rame kali…
Tepat disimpangan lampu merah, ternyata di situ ada Pos Polisi. Di belakang pos polisi ini terlintas jalur kereta api manggarai-sudirman yang dijadikan pangkalan gadis-gadis itu menjajakan dirinya.
Kontras sekali, didepan Pos polisi, Polisi kan pengayom & pelindung masyarakat yang seharusnya membersihkan penyakit-penyakit masyarakat. Tapi dibelakangnya penyakit dibiarkan leluasa beredar. Seolah-olah polisi disitu menjadi pelindungnya malah.
Atau jangan-jangan …??? seribu macam pikiran menari dihati…
Ketika orang mendengar nama taman lawang, pasti didalam pikirannya yang terlintas adalah pangkalan para waria yang menjual jasa pemuas kebutuhan sexual bagi sebagian orang yang aku pikir pasti memiliki kelainan jiwa. Bagaimana tidak, Tuhan sudah menciptakan makhluknya yang terindah yang disebut wanita, sebagai teman untuk mencurahkan segala asa dan rasa, tapi orang-orang sakit jiwa ini malah melarikan kebutuhannya ke para waria.
Tunggu dulu….jangan divonis sakit jiwa seperti itu dulu. Mungkin saja, orang-orang hidung belang itu sekedar ingin tahu, sekedar ingin merasakan, dan sekedar-sekedar lainnya, tapi pada dasarnya mereka adalah orang-orang normal, yang masih memerlukan wanita.
Bagiku ketika orang sudah menggunakan logika terbalik, artinya ketika sebagian besar orang bertindak A, tapi mereka malah bertindak B, ketika orang sudah tidak lagi mendengarkan bisikan hati nuraninya, orang-orang itu sudah dikategorikan jiwanya sedang sakit, kondisi psikisnya terganggu, cahaya didalam hati nuraninya sedang redup.
Oh ya…ngomong-ngomong di area taman lawang dan sekitarnya, sepertinya sudah menjadi area lokalisasi. Di area ini tersedia bajakan atau orgi hahaha, yang bajakan adalah mereka para waria, dan orgi, anda tahu sendiri. Aku kadang-kadang secara terlintas melihat bagaimana sekumpulan gadis muda belia yang kira-kira usianya 15-20 tahun, berdiri di beberapa tempat remang-remang sepanjang jalur kereta api Manggarai –Sudirman. Miris sekali melihat pemandangan seperti itu. gadis-gadis muda, usia sekolah, sudah menjadi pemuas hidung lelaki yang belang.
Pemandangan seperti itu aku jumpai hampir setiap malam, nggak tahu bagaimana kalo lewat jalan itu malam minggu mungkin lebih rame kali…
Tepat disimpangan lampu merah, ternyata di situ ada Pos Polisi. Di belakang pos polisi ini terlintas jalur kereta api manggarai-sudirman yang dijadikan pangkalan gadis-gadis itu menjajakan dirinya.
Kontras sekali, didepan Pos polisi, Polisi kan pengayom & pelindung masyarakat yang seharusnya membersihkan penyakit-penyakit masyarakat. Tapi dibelakangnya penyakit dibiarkan leluasa beredar. Seolah-olah polisi disitu menjadi pelindungnya malah.
Atau jangan-jangan …??? seribu macam pikiran menari dihati…
No comments:
Post a Comment