
.....
“Bondaaaan….pulang…Eta pagarna bawa!!!!” bentak seorang bapak berambut plontos dan berkumis.
Kemudian salah seorang yang disebut namanya yang lagi asyik-asyiknya maen basket, menghentikan permainan lalu dengan mimik wajah kecewa campur takut keluar dari arena, ngeloyor pergi melewati bapaknya.
“Belegug siah…!!! Omel bapak yang tadi.
.....
Itu sedikit adegan sebuah iklan produk rokok yang berhasil masuk kedalam mind set aku. Aseli adegan ini menurutku lumayan lucu dan menghibur, apalagi dengan aksen dan bahasa campuran yang sunda pisan.
Mengusung tema “apa obsesimu”, sejak kemunculan iklan pertamanya yang versi sutradara, rokok ini sepertinya berhasil meraih awareness yang cukup tinggi. TVC nya pernah dibahas di millist kritik iklan, juga di sebuah media bagaimana proses creative itu muncul.
Versi pertama (Sutradara) sepertinya yang memang keren banget. ”Siapa seh elo…?” kata-kata ini sering kali diucapin oleh banyak kalangan sekarang. Aku sendiri nggak bosan-bosan melihat iklannya. Mungkin mereka target audience rokok ini ketika melihat iklan, merasa ini iklan gue banget ! syukur-syukur langsung berpikir, “iya…ya obsesi gue apa ya.…?”
Setiap orang pasti mempunyai sesuatu yang menjadikan obsesi hidupnya, obsesi itu semangat hidup, cita-cita hidup. Dengan obsesi, kita memiliki arah dan tujuan dalam melangkah. Hendak dibawa kemana hidup kita yang hanya sekali didunia ini. Setidaknya ada planning jangka pendek dan jangka panjang dalam rangka meraih obsesi tersebut.
Menikah hmmm…mungkin itu salah satu obsesi jangka pendek ku (yang seperti ini bisa dikategorikan obsesi bukan yah…? ). Apapun namanya, pokoknya itu menjadi salah satu harapan dan keinginanku. Aku khawatir sepertinya orang sepertiku sudah dikategorikan wajib untuk menikah. (..duuuh gusti mohon ampun atas kelemahanku yang satu ini). Betapa tidak, secara ekonomi insya Allah aku sudah dikategorikan cukup untuk menghidupi satu isteri mah (bahkan lebih dari 1 pun insya Allah masih cukup hehehe), ilmu tentang nikah sedikit-dikit tahu lah, rukun dan syarat nikah.
Kalonggak salah rukun nikah tuh :
- Ada calon mempelai wanita dan mempelai laki-laki
- Adanya Ijab (penyerahan dari wali wanita), Ijab tuh kata-kata yang diucapkan oleh si wali/penghulu “Saya nikahkan engkau dengan ….bin …dengan mas kawin…dibayar cash”
- Adanya Qobul (penerimaan dari mempelai laki-laki), “Saya terima nikahnya (siapa ya hehe) bin fulan dengan mas kawin …dibayar cash.” (duuuh kok deg-degan begini)
Kalo Syaratnya sih :
- Kedua calon mempelai sudah jelas orangnya
- Kedua calon mempelai ikhlas dan ridha satu sama lain Adanya wali dari mempelai wanita
- Adanya 2 orang saksi
Ada yang kurang nggak yah? Sebentar…oh ya, kalo mahar bukannya wajib? Mahar atau maskawin mungkin dimasukkan dalam rukun nikah. (wah mesti tanya ustadz lagi nih..).
Sebenarnya kalau ditilik-tilik, kita sendiri yang menyebabkan sesuatu itu jadi susah. Semuanya teramat mudah, Cuma kita yang kadang-kadang mempersulit diri sendiri (kayak tagline ikan sebuah rokok…gampang dibikin susah..tanya kenapa…?). Tercatat olehku 2 kali kesempatan untuk menikah itu pernah datang.
Pertama tawaran dari murrobi lewat sebuah sms.
”Akhi…ada akhwat cakep berminat…?” demikian bunyi sms-nya.
Deg ..aku dapat sms ini sontak kaget.
“waduuh gimana jawabnya nikh…”celetuk dalam hati sambil nyari jawaban yang agak enak.
“Afwan Pak, ditawarkan ke ikhwan lainnya aja dulu, kalo ane mah nanti insya Allah kalo siap menghubungi antum.” Blaaaas…terkirim ke murrobiku.
Itu terjadi kira-kira awal tahun lalu (atau akhir 2004).
Kemudian pas Ramadhan tahun 2005 lalu, sehabis pulang taraweh ketika asyik mentadarusi Alquran. Datang sms dai seorang akhwat,
“Ass. Kak Maman mohon maaf mengganggu malam ramadhan kakak, murrobiyah Wat tadi sms, ada seorang ikhwan yang ingin ta’aruf dengan Wat, ikhwan tersebut berasal dari Jawa Tengah, Cuma ama Bapak Wat nggak disetujui karena jauh. Bapak malah bilang kalau dengan Kak Maman lebih sreg dan setuju. Tapi Wat bilang, kemungkinan Kak maman sudah punya calon. (bukan begitu kak?). Nah Wat ingin minta pendapat kak maman…?
Kaget, takut dan lainnya jadi satu, itu yang waktu itu aku rasakan. Kalau dari isi sms-nya aku sudah bisa ambil kesimpulan, bahwa akhwat ini sebenarnya secara tidak langsung menawarkan dirinya untuk kupinang. (bukan begitu bukan..?)
Dengan akhwat ini aku ketemu 2 kali, pertama tahun 2000 dan terakhir September 2005, dua-duanya di rumahnya. Antara tahun 2000 – 2005 sangat jarang komunikasi, paling sekedar sms ataupun email. Dia seorang daiyah, sering menjadi narasumber diacara talkshow disebuah radio di Tangerang, mempunyai jiwa wirausaha tinggi, karena selama kuliah menjual busana muslim dan sekarang pun memiliki sebuah toko busana dan perlengkapan muslim di Tangerang. Inilah yang bikin aku ragu-ragu, dia seorang aktifis, mempunyai wawasan keislaman yang tinggi, kalau harus bersandingkan dengan aku, apajadinya dia, seharusnya ikhwan yang akan mendampinginya sepadan baik kecakapan maupun wawasannya.
“Wa’alaikum salam, Menurutku sebaiknya ukhti pertimbangkan tawaran dari murrobiyah ukhti, jalani prosesnya dulu. Aku yakin murobiyah anti pasti tau kapasitas ikhwan tersebut, makanya ditawarkan ke anti. Dan aku haqul yaqin, ALLAH akan memberikan sesuatu kepada kita, karena kita patut untuk mendapatkannya.”
Demikian balasan smsku, setelah sebelumnya aku discuss dengan beberapa orang teman termasuk murrobiku.
Hari Raya Idul Fitri kemarin, ketika aku ucapin selamat hari raya sambil minta maaf via sms, dia bales dengan ucapan yang sama dengan tambahan.
“Proses ta’aruf kemarin nggak lanjut kak.”
Bukannya GR, tapi kalo dari isi sms-nya sepertinya masih mengharapkan aku untuk berproses dengan dia.
……..
Iya kan…? Kalo waktu itu aku sudah mempunyai keteguhan hati, kemungkinan besar sekarang sudah ada si jundi mengelayutiku, kemungkinan besar cerita ini tidak akan sampai seperti yang anda baca ini. So…mudah-mudahan semuanya bisa jadi pembelajaran buatku. Untuk segera membulatkan niat, menyempurnakan ikhtiar untuk menggapai salah satu obsesiku ini.
Ssssstt jangan bilang-bilang...sekarang aku lagi hunting nih. Wish me luck OK..!!!
No comments:
Post a Comment