Hampir saja air mata ini meleleh, ketika kulantunkan bait-bait terakhir adzan subuh tadi. Suaraku hampir parau, tertahan dengan gumpalan air mata yang tertahan di tenggorokan. Alhamdulillah….alhamdulillah gusti rabbul izzati….
Hamba masih diberi kesempatan untuk mengumandangkan adzan di subuh ini,
masih diberi waktu untuk bersimpuh,
diberi saat untuk mensyukuri nikmat.
Betapa tidak, di saat yang sama di beberapa tempat di belahan dunia sana banyak yang sudah tidak mampu untuk bangkit kembali dari tidurnya semalam, Orang tua yang kehilangan anaknya, anak yang berpisah dengan orantuanya untuk selamanya.
Apa yang kualami semalam juga mestinya secara logika mungkin akan membuatku tidak akan menjumpai subuh ini dalam kondisi bugar seperti ini.
……
Kulihat jam tanganku menunjuk waktu 18.15, sebentar lagi maghrib sedangkan perjalananku masih tinggal sepertiganya menuju rumah. Langit diselubungi awan mendung pekat, kondisi ini membuatku ingin memacu secepatnya saja motorku, ingin lekas-lekas sampai di rumah, jangan sampai hujan turun merintangi lebih dulu perjalanan pulang ini.
Tepat pertigaan Pamulang-Lebak Bulus, brrrrr…..hujan mengguyur bumi sekujur, aroma bau khas tanah yang baru tersiram air mampir diindera penciumanku.
Beberapa meter lagi mesjid agung, yang memang sudah kuniatkan untuk magriban di mesjid tersebut, ya turunnya hujan menjadikan kebetulan ini untuk mampir barang sejenak ke mesjid tersebut.
Celana jeans yang kupakai agak sedikit basah juga rupanya, membuat dingin menelusuk kebagian bawah tubuhku. Selesai wudhu, aku mendapati jamaah magrib sudah menginjak rakaat kedua. Selesai magrib dan wirid sebentar, rupanya suara gemerincik hujan masih sangat terdengar, ya sudah sambil menunggu hujan benar-benar reda, tilawah quran yang paling cocok untuk penantian ini. Tepat setelah 2 halaman penuh kulahap tilawah ini, alhamdulillah hujan mulai reda.
Setelah perlengkapan berkendara terpakai semua, ku start motorku, berjalan perlahan memasuki jalan raya. Kalau sudah di jalan raya dan menunggangi Tiger ini rasanya hilang segala kepenatan, lepas segala pikiran, yang ada keinginan memacu kencang, selap selip, belok kiri kanan, tot..tot menglakson angkot-angkot yang sering sembarangan berenti menaiki maupun menurunkan penumpang.
Saat kupacu laju motorku, tepat beberapa meter didepanku ada genangan air, dengan tidak mengurani kecepatan, dan sambil mengangkat kedua kakiku guna menghindari basah air, kulabrak saja genangan air tersebut.
Namun ternyata genangan air tsb bukan sekedar genangan air, dibawahnya jalan yang berlobang lumayan dalam. Motor yang kupacu lumayan kencang, tanpa tahu didepan ada lobang, tak ayal membuat tubuhku terangkat keatas, tangan kiri lepas dari stang, tangan kanan agak hanya sedikit menyentuh stang, membuat motor tidak bisa terkendali, yang tiba-tiba oleng sedikit kekanan, sedangkan dilajur kanan dari arah sebaliknya ada truk pasir yang juga sedang melaju kencang.
Jantung berdegup kencang, badan lemas selemas-lemasnya mengalami kondisi ini, mengira apa yang akan terjadi. Tapi diluar dugaan, ntah apa yang terjadi, tiba-tiba motorku agak sedikit belok ke arah kiri, seakan-akan menghindari truk yang tinggal hitungan detik menabrak motorku, beberapa saat kemudian tangan kiriku kembali ke posisi semula dan alhamdulillah kondisi mulai terkendali. Motor kuhentikan sebentar untuk mengembalikan ketenanganku, sambil mengusap-ngusap dada dan berkali-berkali tak habisnya ku memuji kebesaran Allah, alhamdulillah…alhamdulillah…alhamdulillah, kalau tadi tidak ada tangan keajaiban Mu mungkin saja aku sudah terkapar dijalan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, mungkin tulang-tulangku patah, tubuh luka, atau bisa aja bisa langsung mati.
Sambil tak henti-hentinya berdzikir, aku kembali mengendari motorku dan berpikir keras apa gerangan yang membuatku bisa terselamatkan dari musibah tadi. Lantas tiba-tiba ingat dengan ceramahnya Ust Yusuf Mansyur, bahwa salah satu yang bisa menghindari kita dari bala atau musibah adalah sedekah, dengan berbagai bukti nyata yang juga dipaparkan oleh beliau.
Sedekah…? Apa mungkin sedekah yang menyelamatkan ku tadi? Lantas sedekah apa yang sudah aku keluarkan? Kapan? Kesiapa?
…….
Sambil mendengarkan ceramah Usd Salim Ghibas, Ustad ini salah seorang pentolan ustad salafi, yang agak sedikit keras ceramahnya, mengomentari berbagai bid’ah-bid’ah yang menjamur di masyarakat dengan memberikan dalil-dalil yang sangat detail lengkap dengan quran dan hadist yang shahih, aku membolak balikan amplop yang ada dihadapanku, amplop yang tadi dibagikan ketika memasuki mesjid oleh seorang akhwat. Amplop yang bertuliskan salah satu yayasan yatim piatu di Yogyakarta. Amplop ini dibagikan dengan tujuan untuk mengumpulkan sumbangan, derma, sedekah dari para jamaah masjid.
Yayasan yatim piatu Alghifari? Yayasan beneran bukan sih? Hmmm…nama yayasanya mengingatkanku pada nama mesjid kampusku juga salah seorang sahabat nabi. Kulihat foto ketua yayasannya. Nnngg…kok nggak ada jenggotnya yah?, aku sempat berpikir seperti itu. Isi…. jangan..? Isi…. jangan..? aku ragu-ragu untuk mengisi amplop tersebut, aku khawatir aja hal-hal seperti ini dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
“Ah…nggak aja ah... “ lantas aku biarkan aja amplop tersebut dihadapanku, aku kembali mendengarkan ceramah Ustd Salim Ghibas, yang kali ini membahas mengenai bahayanya pemikiran kaum sipilis.
Namun, tiba-tiba aku seolah-olah diingatkan, bahwa Allah pasti akan menilai niatan kita, kalau kita niat dengan tulus, insya ALLAH akan ada nilainya disisi ALLAH dan akan diberi balasan setimpal, tidak peduli sedekah yang kita keluarkan akan dimanfaatkan oleh siapa dan untuk kepentingan apa. Lantas aku ambil kembali amplop tersebut, aku isi selembar 20 ribuan.
“Mudah-mudahan Allah berkenan menerima niatanku ini...”sambil berjalan keluar, karena memang ta’lim sudah selesai, ku serahkan amplop tersebut ke si akhwat.
……
Sapa nyana, sedekah yang tadi pagi sempat aku ragu untuk mengeluarkannya, rupanya menyelamatkanku dari musibah yang harusnya kualami. Aduhai benar lah apa yang baginda fatwakan, bahwa sedekah menolak bala.
" Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah (Al Hadist)"
No comments:
Post a Comment